Dendam Per-kentut-an

14 06 2010

Nyokap memang menyimpan dendam per-kentut-an terhadap gue.

Pada suatu malam, ketika gue sedang berlibur ke villa kawasan Puncak bareng nyokap dan bokap, gue merasa bosan sekali.

Akhirnya gue memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, lalu membaca buku. Ternyata nyokap juga ada di kamar, lagi merebahkan diri di ranjang.

Gue membaca buku dengan tenang di atas ranjang yang lainnya.

Masih tenang..

Hening.

*BROOT!* gue kentut tiba-tiba.

Wajar, semua manusia bisa kentut. Apalagi di dalam kamar itu cuma ada nyokap dan gue. Bodo amat dah, mau gue salto, koprol, mencret sambil koprol, yang jadi saksi di ruangan itu cuma Tuhan, gue sendiri, dan nyokap.

Lalu, gue membenarkan posisi pantat gue. -> sungguh informasi yang tidak penting.

Kamar kembali hening..

Masih hening.

Sangat hening.

*BROOOOOT!* kali ini bukan gue yang kentut! Sumpah! SUMFAAAH!!

Beberapa detik setelah bunyi kentut berkumandang..

“Gua bales kentut lo! Hahahaha!!!” dengan nada meledek.

Anjrit! Siapa yang ngomong barusan??!!!

Tersangka yang gue curigai ada 2. Yang pertama, makhluk halus yang kebauan sama kentut gue. Yang kedua…….. tidak lain dan tidak bukan adalah…… nyokap.

Dan tersangka yang paling mungkin dalam masalah ini adalah… nyokap. Dan emang bener nyokap yang kentut.. dan yang ngomong ”Gue bales lo! Hahahaha!!!”

Apa iya nyokap gue sedendam itu sama kentut gue??!

Astaga ibuku! Sumpah, dia juga sering kentutin gue di kamar! Bahkan di mana-mana! Sampe di tempat umum pun juga dia sering kentutin gue!!! Semua orang di rumah udah pernah dia kentutin! Mulai dari bokap, abang-abang gue, sampe pembantu rumah sendiri! Semua udah pernah merasakan kedahsyatan kentutnya! Kenapa dia malah balas dendam sama gue, yang jarang-jarang ngentutin dia??!!!?!?! KENAPAAAAAAA???!!!!

Kalau ada peribahasa ’Air susu dibalas air tuba’, yang berarti kebaikan dibalas dengan kejahatan, pasti juga ada peribahasa ’Air comberan dibalas Air Susu Ibu’, yang berarti kenistaan anak dibalas dengan kepicikan ibu -> sangat cocok untuk masalah ini.

Lain kali, gue pengen mencret depan nyokap.

——-

Setelah perang kentut itu usai, semua kembali hening..

Masih hening.

Tidak ada yang kentut lagi.

Damai sejahtera aman sentosa. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa.

The End.

(Kisah mengenaskan di atas merupakan kisah nyata, sama sekali tak ada rekayasa. Sumpah.)

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.